PENGENDALIAN HAMA TIKUS (EMPOS)

30 Juni 2026
Administrator
Dibaca 9 Kali
PENGENDALIAN HAMA TIKUS (EMPOS)

Pemerintah Desa Mangunjaya bersama berbagai unsur masyarakat menggelar kegiatan pengendalian hama tikus sawah dengan metode fumigasi (empos) pada Jumat (26/6/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Dusun Sindang, Blok Surawaja, RT 035/RW 005, Desa Mangunjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran.

Kegiatan ini melibatkan perangkat desa, Kepala Dusun Sindang, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Mangunjaya, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kelompok tani, serta sejumlah tokoh masyarakat. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah bersama untuk menekan serangan hama tikus yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama penurunan produktivitas padi.

Tikus sawah merupakan hama utama tanaman padi yang dapat menyebabkan kerugian besar, bahkan berujung pada gagal panen apabila populasinya tidak dikendalikan. Oleh karena itu, pengendalian dilakukan secara terpadu dengan memanfaatkan metode fumigasi atau pengasapan sarang tikus menggunakan alat empos.

Dalam pelaksanaannya, dilakukan pengujian efektivitas fumigasi dengan tiga variasi jumlah semburan asap, yakni satu kali, tiga kali, dan lima kali semburan. Setiap perlakuan diberikan waktu tunggu selama tiga menit dengan jeda antar semburan sekitar 10 detik. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali untuk memperoleh hasil yang lebih akurat.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan alat fumigasi bekerja dengan baik dalam mengendalikan tikus sawah. Satu kali semburan asap dinilai belum efektif karena tidak mampu memaksa tikus keluar dari sarangnya. Pada perlakuan tiga kali semburan, tikus mulai keluar dari lubang, namun masih dalam kondisi aktif dan sehat. Adapun lima kali semburan terbukti paling efektif karena tikus keluar dari lubang dalam kondisi lemas sehingga lebih mudah ditangkap menggunakan jaring dan kemudian dimusnahkan.

Menurut Kelompok Tani Sindang, serangan tikus sawah dapat terjadi sejak fase persemaian hingga menjelang panen. Hama ini memiliki perilaku nokturnal atau aktif pada malam hari sehingga keberadaannya sulit dipantau secara langsung. Dalam satu malam, seekor tikus bahkan mampu merusak antara 11 hingga 176 batang padi, sehingga pengendalian secara rutin menjadi sangat penting untuk menjaga hasil produksi pertanian.

Melalui kegiatan pengendalian hama tikus secara gotong royong ini, pemerintah desa bersama para petani berharap populasi tikus sawah dapat ditekan sehingga produktivitas padi tetap terjaga. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, penyuluh pertanian, kelompok tani, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan sistem pengendalian hama yang lebih efektif dan berkelanjutan demi mendukung ketahanan pangan di wilayah Kecamatan Mangunjaya.